Bagaimana Perilaku Serta Etika Anggota DPR

Bagaimana Perilaku Serta Etika Anggota DPRIde tentang trias politica pertama kali di perkenalkan oleh tokoh berkebangsaan prancis montesqiau yang menginginkan adanya pemisahan kekuasaan dalam lembaga negara secara radikal (separatioan of power). Dimana lembaga negara tersebut terdiri dari legislatif yang akan membuat undang-undang, eksekutif sebagai lembaga operasional yang menjalankan aturan tersebut dan yudikatif sebagai lembaga pengawasn terhadap kedua lembaga negara eksekutif dan legislatif.

Dimana pada masa kehidupan montesqiaua kekuasaan eksekutif tidak memiliki batasan yang jelas sehingga ada anggapan yang menyatakan negara sama dengan dirinnya. Disini hukum tidak mempunyai kekuatan untuk membatasi, dan apapun yang menjadi ucapan dari pemimpin/raja bisa menjadi hukum. Gagasan montesqiau ini di ilhami oleh pemikiran tokoh jhon lock berkebangsaan inggris dia membagi kedalam tiga lembaga yang pertama eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Indonesia menggunakan gagasan montesqiau secara tidak konsisten kerena kita tidak mengenal adanya pemisahan secara tegas, akan tetapi indonesia membagi kekuasaan (distribusi of power) karena antara eksekutif dan legislatif memiliki wewenang untuk merancang undang-undang. Ketiga lembaga negara ini memiliki peran dan fungsi yang berbeda walaupun disisi lain ada kesamaan. Di dalam penulisan ini penulis hanya menyoroti satu dari ketiga lembaga yaitu lembaga legislatif atau dewan perwakilan rakyat dalam perilaku dan etika.

Dewan perwakilan rakyat adalah lembaga penyalur aspirasi masyarakat terhadap pemerintah. Dimana masyarakat memiliki perwakilan yang akan menyampaikan suaranya, artinya DPR adalah jembatan atau penghubung. Sebagai perwakilan rakyat sudah seharusnya menjalankan misi tersebut, bukan malah sebaliknya melakukan tindakan diluar dari yang di amanahkan. Dasawarsa terakhir ini rakyat di kejutkan oleh perilaku anggota dewan yang terhormat yang menginginkan pembuatan gedung yang baru dengan memakan anggaran negara yang cukup besar di tengah-tengah masyarakat yang di himpit kemiskinan dan kelaparan.

Dengan berbagai rasionalisasi yang tak masuk akal DPR melakukan upaya untuk tetap memaksakan kehendak membuat gedung yang baru walaupun di satu sisi rakyat berteriak menolak pembangunan tersebut. Kemudian pada saat rapat pleno dewan kita tercinta ini melakukan hal-hal yang diluar dari kebiasaan dimana mereka pada saat sidang untuk membuat aturan untuk rakyat adanya yang tidur, bolos mengikuti rapat, menonton flem porno di tengah-tengah sidang, menyanyi kayak anak TK dan bahkan sampai hal-hal yang konyol sekalipun melempar botol aqua ke pimpinan sidang waktu memutuskan pilihan yang mana untuk di ambil dalam isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

Perilaku yang di tampilkan oleh anggota dewan terhormat ini sangat jauh dari etika dan profesionalisme anggota, seharusnya mereka yang telah di amanahkan tugas dan tanggung jawab untuk menjawab semua kebutuhan dan tuntutan rakyat yang ingin memperbaiki nasib mereka, dimana kemiskinan menjadi hal yang sangat substansial untuk di selesaikan akan tetapi yang di tunjukan oleh mereka hanyalah parade konyol ketidak senonohan dan vulgaritas kehidupan yang serba wah dan menggoda. Sudah berapa banyak anggota dewan yang terlibat dalam skandal korupsi dan perbuatan tindakan asusila dan tidak banyak mereka juga menjalani hidup sebagai tahanan negara (penjara) karena perilaku menyimpang.

Apalagi yang bisa kita harapkan kepada dewan kita dewan terhormat yang notabene mewakili suara rakyat, malah melakukan penekanan tehadap rakyat dengan melegalkan undang-undang yang tidak pro terhadap rakyat. Sebagai wakil rakyat yang duduk di kursi yang empuk dengan hawa ruangan yang dingin di kelilingi oleh pendingin ruangan serta gaji yang cukup menggiurkan beserta tunjangan-tunjangan lainnya.

Sebernanya dengan fasilitas yang sudah diberikan seperti itu seharusnya mereka para wakil rakyat bekerja secara maksimal yang menghasilkan keputusan yang memihak terhadap masyarakat, akan tetap semua itu sangat jauh dari panggang api. Mereka lihai dalam memanfaatkan kesempatan, pada saat reses para wakil menggunakannya untuk berkunjung ke beberapa negara dengan dalil untuk belajar etika, hukum, sperbandingan sistem dan lain-lain yang tak masuk akan, mereka melegitimasi dengan menggunakan koalisi yang nantinya akan mendukung program tersebut. Dan yang menjadi sesuatu yang aneh dan tak masuk akal yaitu mereka membawa beserta keluarganya untuk mengujungi negara yang di tuju dengan menggunakan anggaran negara atau lebih tepatnya uang dari rakyat yang di kumpulkan melalui pajak.

Perilaku seperti ini banyak yang di tampilkan oleh anggota dewan yaitu perilaku yang tidak memberikan pembelajaran secara edukatif maupun secara moral. Seharusnya mereka yang di jadikan sebagai publik figur bisa menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat di tengah-tengah dekadensi kepercayaan yang semakin merosot, akan tetapi tidak bagi DPR. Penulis sendiri melihat mengapa kemudian perilaku dan etika anggota dewan rakyat seperti yanag kita lihat dan rasakan hari ini, menurut pribadi penulis ini di sebabkan oleh pengrekrutan kader partai yang memiliki kepentingan politik yang cukup besar sehingga partai mencari sosok calon anggota yang mampu dan dapat untuk meningkatkan kuantitas kader. Dan ini di buktikan dengan membludaknya anggota dewan yang datang dari golongan artis, pengusaha, preman dan hartawan yang pada substansialnya mereka tidak paham dan profesiaonalisme dalam bidangnya, contohnya pengusaha di masukan ke dalam komisi banggar, preman di masukan dalam komisi hukum dan lain-lain.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *